Sabtu, 12 Juli 2014

PRAMBANAN




SEJARAH

Mataram adalah sebuah kerajaan terbesar pada masa Jawa Kuno yang muncul pertama kali di panggung sejarah pada tahun 732 Masehi, di mana pada masa itu kerajaan Mataram di perintah oleh Sanjaya, bangsawan Hindu yang berkuasa di daerah subur antara sungai Opak & Progo. Pada tahun 750 Masehi, Dinasti Syailendra yang beragama Buddha mengusir Sanjaya bersama-sama dengan keluarganya yang mengasingkan diri di daerah dataran tinggi di luar batas kerajaan Mataram.
Seabad kemudian, Rakai Pikatan keturunan Raja Sanjaya menikah dengan seorang clan keluarga Syailendra dan memegang tampuk kekuasaan. Dalam masa kekuasaannya pengaruh Hindu seperti terlahir kembali dan pada masa itu banyak didirikan bangunan-bangunan candi khususnya pembangunan kompleks Candi Prambanan.
Rakai Pikatan mulai membangun candi tersebut pada tahun 856 Masehi dengan tujuan memperingati kembalinya tampuk kekuasaan Dinasti Sanjaya. Namun, kompleks candi tersebut terabaikan satu abad kemudian ketika kerajaan Mataram beserta rakyatnya pindah ke Jawa Timur dan candi itu sendiri runtuh semenjak adanya gempa bumi dahsyat yang terjadi pada abad ke – 16. Restorasi candi dilakukan pada tahun 1930 dan tetap dilakukan hingga saat ini.
Tiga candi pada halaman utama sangat mendominasi kompleks tersebut. Tetapi candi yang paling mengesankan adalah sebuah bangunan besar yang berada di tengah-tengah kompleks dan menjulang setinggi 47 meter yaitu Candi Roro Jonggrang. Dikatakan oleh beberapa ahli bahwa Candi Roro Jonggrang didedikasikan kepada Dewa Siwa sementara kedua candi yang lebih kecil yang berada di sebelah utara dan selatan Roro Jonggrang didedikasikan kepada Dewa Wisnu dan Dewa Brahma.

LEGENDA BANDUNG BONDOWOSO

Legenda rakyat ini bercerita tentang sebuah tragedi dari seorang pria yang sangat berkuasa bernama Bandung Bondowoso yang ingin menikahi seorang putri cantik jelita bernama Roro Jonggrang – putri seorang raja bernama Prabu Boko.
Tetapi sang Putri menolak cara halus yaitu dengan mengajukan sebuah permintaan untuk membuat seribu patung dalam waktu 1 malam. Sementara Bandung Bondowoso membuat patung yang terakhir dengan dibantu oleh sekelompok jin. Roro Jonggrang mengumpulkan beberapa wanita untuk memukul-mukul alat penumbuk padi, sebuah aktivitas yang menandakan bahwa pagi segera tiba dan membuat api unggun yang besar di sisi timur, yang menyebabkan arah timur berwarna merah yang berarti matahari telah terbit.
Hal ini membuat para jin yang membantu Bandung Bondowoso tersebut percaya bahwa pagi telah tiba dan merekapun segera menghilang. Roro Jonggrang segera datang dan membangunkan Bandung Bondowoso dari meditasinya untuk memberitahukan bahwa ia telah gagal memenuhi permintaannya. Setelah mengetahui kebohongan Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso menjadi sangat marah dan mengutuknya menjadi sebuah patung Dewi Durga, dimana pada akhirnya patung tersebut untuk melengkapi patung-patung lain agar genap menjadi 1.000 patung sesuai permintaan Putri Roro Jonggrang.

RELIEF RAMAYANA

Relief-relief yang ada di Candi Roro Jonggrang menggambarkan cerita-cerita Hindu yang bernilai estetis.
Panel-panel yang melukiskan cerita epik Ramayana terdapat pada langkah bawah Candi Siwa dan Brahma. Dimulai dari Candi Siwa ke arah kiri dari tangga sisi timur, dilanjutkan berkeliling searah jarum jam. Panel Ramayana menceritakan Pangeran Rama dari Kerajaan Ayodya merupakan titisan Dewa Wisnu yang turun ke bumi. Gambar-gambar tersebut merupakan contoh cerita yang terpahat pada batu dengan sangat indah.
Pada dasarnya sebuah drama dari tari tradisional tanpa dialog panjang seperti halnya Sendratari Ramayana merupakan sebuah pertunjukan teater yang spektakuler dengan kisah-kisah kepahlawanan, tragedi percintaan dan penganiayaan yang semuanya dipentaskan demi memuaskan penonton pada masa sekarang ini. Pementasan malam hari di panggung terbuka dengan Candi Roro Jonggrang sebagai latar belakangnya sungguh merupakan sebuah pemandangan yang menakjubkan.


 

CANDI SEWU

800 meter ke arah utara Candi Roro Jonggrang terdapat sebuah Candi Budha yang dibangun oleh seorang raja Hindu yaitu Rakai Pikatan. Candi tersebut bernama Candi Sewu.
Rakai Pikatan menikah dengan seorang putri yang beragama Buddha. Kompleks Candi Sewu berisi 240 candi kecil-kecil yang dibangun mengelilingi sebuah candi utama. Candi utama tersebut mempunyai bentuk poligon berdiameter 29 meter dan menjulang hingga ketinggian 30 meter. Semua struktur bangunan candi terbuat dari batu andesit.
Konfigurasi simetrikal bangunan merupakan simbol sebuah bentuk keharmonisan alam raya, sebuah tradisi yang diikuti oleh Kraton baik di Surakarta dan Yogyakarta. Semua bangunan di dalam kompleks candi berpagar batu, dan di pintu masuk di jaga oleh Dwarapala, patung batu berukuran besar dan bersenjatakan alat pemukul, bentuk patung batu penjaga berperut besar seperti ini juga terdapat di halaman bagian dalam Kraton Yogyakarta.


LEGENDA